Tampilkan postingan dengan label Artikel Tanggapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Tanggapan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 April 2008

Kurniawan S Basol Ternyata Baru Telur Kodok

HARUS diakui, ternyata saya cukup sabar meladeni Kurniawan S Basol. Dan saya akan tetap sabar. Walau saya mulai menguatirkan jangan-jangan saya benar terlibat debat dengan orang yang ''tidak genap''.

Berdebat dengan orang ''meheng'' bukanlah dosa. Kalau pun ada kerugian, ya, waktu yang terbuang dan rasa malu. Saya bisa membayangkan orang-orang akan mengatakan: ''Masak Anda begitu bodohnya meladeni orang miring?''

Lagi pula, saya pikir, sampai pada posting Kurniawan S Basol Bukan Kodok, Tapi Berudu, saya akan berhenti. Tak tega rasanya ‘’mempermainkan’’ sang calon sarjana. Walau bagaimana pun, saya pernah di usianya; dan sah-sah saja orang muda melakukan kekeliruan.

Namun, membaca email-nya terakhirnya mendorong saya untuk terus merespons. Betapa berbahaya membiarkan ada orang muda yang mulai bertingkah seenak perut, benar sendiri, tetapi dengan pengetahun yang yang hanya setinggi pohon tomat. Lain soal kalau yang bersangkutan jenial dan jenius. Saya mungkin akan lebih toleran.

Di atas semua itu, toh blog ini milik saya; dan yang tidak lagi tertarik membaca, boleh-boleh saja melewatkan.

Tuan calon sarjana, saya tak habis terkagum-kagum menelisik kekeliruan Anda. Bukan hanya bahasa Anda yang makin kacau, tetapi subtansi (ingat kata ini?) yang ingin disampaikan kian tidak karu-karuan. Lebih parah lagi, dikaitkan dengan ‘’penemuan’’ beberapa kata baru yang dituliskan (sayangnya penempatannya keliru) –-contohnya kata ‘konotasi’’, yang seharusnya ‘’konotatif’’--, saya tidak heran bila Ahmad Alheid sampai pada simpulan bahwa saya berhadapan dengan keledai.

Sekali Lagi, Bahasa!

Seperti dua posting terdahulu, saya mulai dengan mengoreksi bahasa Indonesia yang Anda gunakan (anggap saja ini pelajaran menulis –-sebab ternyata di Perguruan Tinggi di mana Anda menimbah ilmu, yang katanya bukan untuk cari kerja, belajar bahasa saja Anda luput).

Pertama, kata ‘’penisbahan’’. Tuan calon sarjana, Anda pernah dengar ada buku yang namanya Kamus Besar Bahasa Indonesia? Atau buku lain yang namanya Kamus Umum Bahasa Indonesia? Baca dua buku itu dan cari di entry ‘’nisbah’’; Anda pasti tahu judul email (atau latihan tulisan yang Anda kirim) keliru besar.

Kedua, kata ''memotifasi''. Ini juga kekeliruan yang ampun --bisa membuat guru bahasa Indonesia saya mengerutkan kening berlipat-lipat. Tuan calon sarjana dengan bahasa Indonesia yang buruk, kata yang benar adalah ''memotivasi''. Kalau Anda tidak percaya, anggap saja PR baru, datangilah dosen bahasa Indonesia dan tanyakan soal kedunguan Anda ini.

Ketiga, kata ‘’konotasi’’ yang Anda gunakan untuk menjelaskan apa yang ditulis di Radar Bolmong, seharusnya bukan ‘’konotasi’’ tetapi konotatif. Tidak percaya, tanya dosen bahasa Indonesia Anda.

Dengan tiga contoh kekeliruan penting itu, apa yang diharapkan dari cara berbahasa; apalagi berpikir Anda? Apakah saya harus menurunkan derajat konotatif Anda dari berudu menjadi telur kodok, yang hanya jadi makanan nyamuk? Ayolah, percaya diri, sombong, dan besar ego, perlu ditopang oleh lebih dari sekadar nekad.

Tuan calon sarjana, bahasa yang baik, benar, dan tepat, bukan sekadar penting; tapi induk dari pengertian. Atau jangan-jangan Anda tidak paham apa yang saya sampaikan karena ''jurang pemahaman bahasa'' di antara kita? Bahwa yang saya tulis sebagai otak, Anda tangkap dan pahami sebagai dengkul, karena memang Anda sama sekali tidak paham bahasa yang saya gunakan? Bila itu yang terjadi, sungguh menyedihkan, sebab bahasa Indonesia yang saya gunakan menulis tergolong sederhana dan mudah dimengerti.

Sekali Lagi, Subtansi!

Berikut, apa subtansi yang Anda ingin sampaikan? Sekadar ingin berbantah dan berlatih menulis? Kalau untuk hal yang satu ini, saya akan dengan senang hati merekomendasi Anda ikut sekolah di Pena Indonesia atau Jakarta School (ini bukan nama dua jenis makanan, tetapi sekolah menulis dan berpikir kreatif). Saya jamin Anda akan lebih baik berbahasa Indonesia, menulis dengan baik, dan yang terpenting: lebih punya logika yang masuk akal.

Alasan bahwa menanggapi saya (termasuk dengan email) adalah latihan menulis, sungguh kekanak-kanakan. Kemana saja Anda selama ini? Kalau menulis (pelajaran paling dasar di sekolah formal) saja masih tertatih-tatih, bagaimana dengan cara berpikir benar?

Pun, kalau sekadar menyatakan bahwa saya lebih pintar menggombal, lebih berusia tua, dan bahwa tulisan saya –termasuk gelar-gelar ajaib yang saya sematkan untuk beberapa badut di Bolmong tidak ada gunanya sama sekali--, itu tidak menjawab substansi yang Anda gulirkan. Lagipula, saya memang tidak peduli apakah yang saya tulis berdampak atau tidak. Tapi faktanya, tidak ada yang bisa membantah dengan landasan dan argumen yang kokoh.

Perkara menggombal, untuk hal sederhana seperti gombal saja Anda tidak bisa, lalu apa yang dipelajari selama ini? Anda tahu, di negeri ini gombal adalah sesuatu yang ampuh, dan bahkan bisa jadi modal penting. Gombal pula yang membuat kebanyakan masyarakat kita gagal memilih pemimpin, karena modal mereka cuma gombal! Dan celakanya kebanyakan rakyat kita tak bisa membedakan mana gombal dan mana yang bukan; bahkan yang sudah sekolah di Perguruan Tinggi seperti Anda, misalnya.

Maka pertanyaan subtansial ke Anda adalah: Sadarkah Anda bahwa semakin Anda mencari-cari cara untuk membela diri, Anda makin terjerat? Bahwa Anda tidak menjawab -–apalagi meminta maaf—terhadap masalah subtansial, di mana Anda melekatkan ‘’Komedian Kasino’’ ke saya tanpa landasan dan argumentasi yang kokoh?

Sekali Lagi, Dungu!

Yang paling menggelisahkan saya (ekspresi yang lebih jujur adalah campuran antara geli dan haru karena membaca kebebalan), Anda juga memelintir satu rangkaian kalimat dengan menggunakan asumsi yang keliru. Premis mayor dan minor menurut definisi Anda. Ampun, sebegitu cupetnya-kah otak Anda hingga masalah yang terang-benderang menjadi amat sangat sukar dipahami?

Luar biasa benar tuan calon sarjana kita ini; yang mencoba mengajari saya bagaimana berpikir dengan logika yang benar.

Anda mau bukti? Kecupetan itu terbukti dari simpulan bahwa saya buaya tidur, yang karenanya tak paham sama sekali masalah di Kotamobagu. Ada dua hal yang sangat keliru, tuan calon sarjana. Pertama, buaya yang saya tuliskan dalam konteks mengingatkan Anda. Kedua, apa dasar dari generalisasi yang Anda simpulkan itu?

Sekadar mengingatkan kembali, saya sudah menuliskan ‘’kodok’’ dan kemudian ‘’berudu’’ untuk menggambarkan cara berpikir Anda, tuan calon sarjana. Apa makna konotatif ini harus saya jabarkan lagi? Masak untuk hal sesederhana ini Anda tidak ‘’nangkap’’ juga.

Akan halnya saya paham atau tidak problematika di Kota Kotamobagu, justru seharusnya itu menjadi pertanyaan untuk Anda: Apakah modal berpikir Anda sudah cukup untuk memahami problematika di Kota Kotamobagu? Sebab problem bahasa dan logika saja Anda sudah gagap, apalagi masalah ‘’tinggi’’ yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.

Sekali Lagi, Akhirnya!

Akhirnya, dengan penuh simpati dan empati saya menutup posting ini dengan kembali mengingatkan, bahwa saya tidak keberatan terus-menerus meladeni Anda. Bagi saya, ini kerja sosial agar satu anak Mongondow lagi bisa dilepaskan dari ‘’zaman kegelapan’’ yang melingkupi kepalanya. Bahkan kalau pada akhirnya saya ternyata memang berdebat dengan ''orang yang kurang genap'', anggap saja lalu-lintas wacana ini terapi untuk Anda.

Tetapi, simpati dan empati ini dibarengi dengan peringatan: Saat saya menulis posting ini, hati saya sedang riang. Banyak yang saya maafkan, sebab email Anda yang juga saya posting-kan cukup menjadi penjelas siapa di antara kita yang keledai dan siapa yang pawang keledai.

Sebab itu, mari kita tutup posting ini dengan harapan saya tidak sedang menulis untuk pohon kelapa atau pohon pisang. Sebab kalau Anda tidak paham juga, Anda harus saya tuliskan seperti apa lagi setelah kodok, berudu, telur kodok, dan keledai –- sebutan yang satu ini datang dari Ahmad Alheid?

Bukankah sungguh merepotkan bila seluruh flora dan fauna di National Geographic harus saya tuliskan satu per satu untuk menggambarkan cara berpikir Anda?***

Sabtu, 29 Maret 2008

Kurniawan S Basol Bukan Kodok, Tapi Berudu (II)

Etika

Kelemahan kebanyakan anak muda yang hanya punya modal ‘’nekad’’, seperti tuan calon sarjana, adalah buta –-ini penghalusan dari ‘’tidak punya’’— etika. Aspek etika ini penting untuk mengelaborasi nama ‘’Komedian Kasino’’ yang disematkan ke saya.

Tuan Kodok (paling tidak sampai bagian ini saya masih menamai Kurniawan S Basol sebagai ‘’kodok’’), apakah Anda belajar etika sejak di TK sampai Perguruan Tinggi? Kalau Anda belajar tentang etika, maka Anda paham dan tahu persis bahwa untuk sampai pada putusan me-label-i saya sebagai ‘’Komedia Kasino’’, Anda harus membangun landasan dan argumen yang kokoh. Mana landasan dan argumen itu di tulisan Kota Yang Bagaimana….? Jika, “Bukan Ini, Bukan Itu..!!!!!”?

Lain soal kalau yang Anda gunakan etika jalanan. Saya tentu akan dengan senang hati menerima kesepakatan untuk menggunakan etika jalanan; di mana siapa yang paling ‘’kuat’’ dan ‘’berkuasa’’ boleh mensemena-menai yang lebih ‘’lemah’’ dan ‘’tidak punya kuasa’’. Saya hanya mengingatkan, saya paham dan mempraktekkan etika yang beradab; tetapi juga tidak asing dengan etika jalanan.

Pilihan Anda untuk menggunakan model etika yang mana? Saya selalu dengan senang hati menerima pilihan yang Anda sodorkan. Tentu, agar beradab, saya perlu memberi catatan: Etika jalanan berakibat sungguh menyakitkan! Dan saya yakin Anda tidak akan kuat menanggungnya.
Kalau label yang Anda sematkan semata-mata karena Anda mau ‘’sok jago’’, saya maafkan saja. Saya mahfum, orang muda, apalagi dengan status mahasiswa, sering merasa besar kepala sebelum lulus dan mulai melongo karena bingung melihat pasar tenaga kerja yang dipenuhi antrean jutaan orang.

Di sisi lain, saya sadar se sadar-sadarnya bahwa tulisan saya sangat menyakitkan banyak pihak. Terutama mereka yang sudah menikmati gelar-gelar yang saya sematkan sesuka saya. Tapi, apakah pihak-pihak yang sakit hati itu bisa membantah dengan landasan dan argumen yang rasional? Masalahnya tidak, karena mereka memang pantas mendapatkan gelar dan sebutan itu.

Teori, Konsep, dan Implementasinya

Di tulisan Kota Yang Bagaimana….? Jika, “Bukan Ini, Bukan Itu..!!!!!” tuan calon sarjana juga mencampur-adukkan perkara teori, konsep, dan implementasinya. Kekacauan pengertian yang dituliskan itu, hampir membuat saya menyimpulkan tuan calon sarjana kita yang sekolah jauh-jauh ke Makassar ini pasti lebih banyak nongkrong main PS, jalan-jalan di Losari, atau ngelamun di tempat kost, ketimbang baca bahan kuliah dan literatur.

Teori mengatakan, kota seperti Kota Kotamobagu harus dibangun dengan pendekatan khusus, mengingat posisi geografis, jumlah penduduk, dan infrastruktur yang menopangnya. Kalau Anda masih mempertanyakan dari mana teori ini, kumpulkan saja literatur tentang perencanaan kota; atau datanglah ke Jurusan Perencanaan Kota di Universitas Hasanuddin, mereka pasti bisa memberi penjelasan yang memuaskan.

Berdasarkan teori seperti itu, harusnya dilahirkan konsep yang paling rasional, kokoh, dan dapat diuji; yang dipilih sebagai cara membangun Kota Kotamobagu menjadi wilayah yang secara ekonomi, sosial, dan budaya berkelanjutan. Untuk melahirkan konsep yang ideal itu, diperlukan lebih dari sekadar pidato atau asumsi. Siapa pun perencananya harus mengumpulkan seluruh data dan aspek yang saling terkait di Kota Kotamobagu, merumuskan, menguji dengan asumsi-asumsi, dan akhirnya melahirkan konsep yang utuh.

Bagaimana menguji konsep itu? Ah, masak Anda yang calon sarjana tidak tahu metode ilmiah? Masak pula Anda tidak tahu bahwa teramat banyak contoh sukses dan gagal dari pembangunan kawasan yang ada di seluruh permukaan bumi ini? Tapi kalau Anda tidak tahu pun, saya tidak heran. Kodok di bawan tempurung memang hanya kenal dunianya sendiri, kan?

Kalau Anda tidak buta dan tuli, hasil dari konsep yang hanya dipetik dari angan-angan seperti yang kebanyakan dikampanyekan oleh para birokrat dan politikus di Mongondow, sudah jelas terpapar saat ini. Kalau kita semua, orang Mongondow, mau jujur, hasilnya adalah sebuah wilayah yang dibangun tambal-sulam, tanpa panduan (orang pintar menyebutkan sebagai blue print) yang jelas.

Bahasa yang Baik dan Benar

Yang menarik dari tanggapan tuan calon sarjana adalah bersikukuhnya yang bersangkutan soal bahasa. Baiklah, saya akan mengajari Anda sekali lagi, sebab tampaknya Anda benar-benar miskin bacaan hingga bahasa Indonesia yang baik dan benar saja tidak becus.

Ada dua hal. Pertama, saya ingin menegaskan lagi, Anda benar-benar dungu yang percaya diri. Tanda seru (!) sebagai penegasan, dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, tidak digunakan lebih dari satu. Kalau Anda ingin menegaskan tiga kali, dalam bahasa tertulis, bukan menggunakan tiga tanda seru (!!!), malainkan mengulang tiga kali frasa yang ingin ditegaskan. Misalnya, kalau Anda ingin menegaskan kata ‘’cukup’’ tiga kali, maka yang ditulis bukan ‘’Cukup!!!”; tetapi, misalnya, ‘’Cukup…, cukup…, cukup!’’ Atau boleh juga, ‘’Cukup! Cukup! Cukup!”

Kalau Anda tidak paham juga, pergilah ke perpustakaan kampus atau toko buku, dan bacalah buku-buku tentang berbahasa Indonesia atau menulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kedua, berkaitan dengan kata tolol dan goblok, di mana saya kutipkan pepatah Inggris yang mengatakan ‘’stupidity has no limit’’. Kalau Anda ingin memperdebatkan arti dan kaedah bahasanya, sebaiknya Anda buka kamus dan literatur bahasa Inggris. Bagi saya, itu masih kalimat yang terlalu sopan untuk Anda. Sebab saya belum menggunakan kata dummy, idiot, atau bahkan yang lebih kasar lagi untuk menggambarkan diri Anda.

Akhirnya: Ternyata Bukan Kodok, Tapi Berudu

Maka tibalah kita pada akhir posting ini. Terus-terang, setelah membaca kembali tulisan sang calon sarjana, serta dua email-nya, saya sungguh menyesal hanya me-labeli-i Kurniawan S Basol sebagai ‘’kodok’’. Sebab, sesungguhnya kodok yang rumah tempurungnya telah dibantu disingkap bisa lebih baik ketimbang sang calon sarjana kita ini.

Setelah dipikir-pikir, saya memutuskan untuk menurunkan derajat berpikirnya hanya sekelas berudu. Dan tuan calon sarjana, kalau Anda belajar bahasa Indonesia, ada pepatah yang mengatakan ‘’besar berudu di kubangan, besar buaya di lautan’’. Sesekali berkacalah, kalau sekadar berudu yang masih berada di kubangan, jangan coba-coba menjiwit buaya yang lagi tidur di muara.

Bagi buaya, kubangan cuma cukup untuk mencuci cakarnya.

Mari kita tutup posting ini dengan senyum lebar a la buaya dan tawa renyah: he he he….***

Kurniawan S Basol Bukan Kodok, Tapi Berudu (I)

Posting ini ditulis untuk menjawab beberapa hal penting berkaitan dengan artikel tanggapan dan email-email Kurniawan S Basol berkaitan dengan posting Kota Bukan Ini, Bukan Itu. Sebagai catatan: Cukup banyak teman, kenalan, dan kerabat, yang mengirim SMS atau menelepon agar saya tidak menjadikan Saudara Kurniawan S Basol satu faktor penting, dengan menanggapi apa yang dia tuliskan. Namun, bagi saya, menanggapi yang bersangkutan harus dilakukan dengan niat baik agar dia tidak ''tersesat'' lebih jauh dengan kebenaran versinya sendiri, yang tanpa landasan dan argumen kokoh.

BANYAK anak muda, dengan berbagai alasan –-terutama sikap dan kebrilianan otaknya-- yang saya kagumi. Beberapa di antara mereka adalah orang Mongondow.

Dengan alasan berbeda, daftar itu bertambah lagi pekan lalu, tepatnya Minggu, 23 Maret 2008, saat membaca email dari Kurniawan S Basol. Terus-terang, saya kagum pada kegagah-beraniannya berkilah dan membenarkan kedunguan yang dibuat. Saya jarang menemukan ada orang yang sekukuh dia mempertahankan pendapat yang keliru se keliru-kelirunya, terutama bagi kalangan yang bersekolah dengan benar.

Sempat terlintas di kepala, jangan-jangan saya berbalas email dengan orang yang ‘’agak kurang genap’’. Namun, dengan berpikir positif, saya kembali merespons si Kurniawan S Basol –-yang calon sarjana-- ini, agar yang bersangkutan lebih tekun belajar supaya tidak menyia-nyiakan uang yang sudah dikucurkan orangtuanya. Bukankah sungguh memalukan bila sudah jauh-jauh disekolahkan ke Makassar dan hasilnya cuma otak yang cupet.

Saya akan menuliskan satu per satu –-dengan sejelas-jelasnya—hal-hal sederhana yang tampaknya sungguh sulit dipahami oleh sang calon sarjana ini.

Perkara Substansi

Musabab saling tanggap antara saya dan Kurniawan S Basol adalah tanggapannya atas posting Kota Bukan Ini, Bukan Itu, yang dimuat di Radar Bolmong, Edisi II, Minggu I Maret 2008 (Kota Yang Bagaimana….? Jika, “Bukan Ini, Bukan Itu..!!!!!”). Artikel itu kemudian saya komentari dengan posting Kodok Itu Bernama Kurniawan S Basol, yang kemudian dimuat lagi oleh Radar Bolmong (sampai hari ini saya belum memegang edisi tercetaknya).

Lewat email, Kurniawan menanggapi posting itu. Dan yang bisa disimpulkan adalah: Menurut sang calon sarjana ini, saya sama sekali tidak paham substansi yang dia sampaikan lewat Kota Yang Bagaimana….? Jika, “Bukan Ini, Bukan Itu..!!!!!” Sebab, menurut email-nya (saya kutipkan): ‘’Semuanya perlu di telaah secara substansial. bukan kata–perkata’’.

Baiklah. Ada sejumlah hal subtantif yang sudah saya sampaikan di posting Kota Bukan Ini, Bukan Itu. Pertama, kebanyakan pejabat dan mereka yang mengaku tokoh (terutama dengan syawat politik tinggi), gemar bicara tanpa mikir. Contohnya, ya, membangun ekonomi Kota Kotamobagu dengan konsep ekonomi kerakyatan; pun menjadikan kota dengan empat kecamatan yang tersuruk di lembah Mongondow ini sebagai kota pendidikan dan jasa. Kedua, kerena bicara tanpa mikir itulah (apalagi membaca), maka jelas tidak ada telaah memadai terhadap apa yang disampaikan. Itu bukan sekadar ngelantur, tetapi mimpi yang keterlaluan. Dan ketiga, kebanyakan kita di Mongondow, karena terlampau ‘’mendewa-dewakan’’ orang –akibat ikatan kekerabatan atau semata karena segan tanpa alasan— membiarkan begitu saja kengawuran itu berlangsung, padahal hajat hidup kita semua terkait langsung.

Lalu, apa substansi yang ingin disampaikan oleh Kurniawan S Basol lewat tanggapannya, Kota Yang Bagaimana….? Jika, “Bukan Ini, Bukan Itu..!!!!!”?

Pertama, menghina saya dengan mengganti nama saya seenak berok neneknya sendiri dari Katamsi Ginano menjadi ‘’Komedian Kasino’’. Saya ulangi lagi, dengan dasar argumentasi apa saya diperlakukan seperti itu? Blog saya jelas mencantumkan identitas, begitu pula Radar Bolmong yang memuat tulisan itu. Dan siapa pun yang menanggapi, tahu persis yang bahwa yang menulis adalah saya.

Kedua, sang calon sarjana kini ini boleh membaca lagi tulisannya, yang sudah saya posting-kan di blog ini (saya mengetik kembali tulisannya dengan ember di samping kiri karena tak kuat menahan rasa muntah –ampun, betapa amburadulnya bahasa Indonesia tuan calon sarjana ini). Selain mengutip-ngutip dan memelintir beberapa bagian tulisan saya, apa yang ingin Anda katakan saudara Kurniawan S Basol? Teori atau sanggahan? Kita lihat nanti di bagian lain tulisan ini.

Simpulan saya, kata ‘’substansi’’ ini tampaknya baru mulai dikenal oleh tuan calon sarjana ini. Seperti bayi yang baru kenal kata ‘’Papa’’ dan ‘’Mama’’; dia sungguh tergila-gila menggunakannya, sekali pun tidak tahu persis kapan dan di mana penggunaan tepatnya. Tengok saja, di depan seorang bayi yang baru belajar bicara, semua yang laki-laki dipanggil ‘’Papa’’ dan semua perempuan disapa ‘’Mama’’, sampai matanya benar-benar terbuka dan bisa membedakan yang mana Papa dan Mama-nya; dan yang mana Papa dan Mama-nya orang lain.

Kurniawan S Basol, dengan artikel Anda yang bahasa Indonesia tidak karu-karuan, apa sebenarnya yang ingin ada sampaikan? Sebagaimana yang sudah saya tuliskan, kalau Anda paham apa itu subtansi, maka: ‘’Tuliskan substansi yang Anda maksudkan dengan dua kalimat sederhana, sebagaimana yang galib dilakukan orang-orang yang tingkat kecerdasannya terukur.’’ Tidak perlu mengutip-ngutip dan memelintir kalimat yang saya tuliskan. Percayalah, saya lebih tahu apa yang saya maksudkan; dan saya yakin begitu terang-benderannya hingga anak SMP pun tahu apa maksudnya.

Calon Walikota Kota Kotamobagu

Di tulisan tanggapan maupun email-nya tuan calon sarjana ini berulang-kali menyitir ‘’kandidat calon walikota’’. Eksplisit dan implisit yang bersangkutan menyatakan saya sama dengan beberapa orang yang syawat politiknya sedang di puncak, yang kini sedang narsis mengklaim diri mereka sebagai ‘’yang pantas dipilih’’ lewat baliho, poster, selebaran, fans club, bahkan pemberitaan di media massa yang dibayar.

Tulisan saya Kota Bukan Ini, Bukan Itu sama sekali tidak mengklaim, mencantumkan, atau menempatkan diri saya sebagai kandidat calon walikota Kota Kotamobagu. Dalam konteks tulisan saya, dari mana tuan calon sarjana menyimpulkan bahwa saya adalah kandidat?

Yang terpenting lagi, apakah sudah ada kandidat calon walikota Kota Kotamobagu saat ini? Kecuali beberapa politikus, birokrat, dan pengusaha yang ge-er, setahu saya sampai saat ini belum ada satu pun yang pantas disebut kandidat calon walikota; sebab belum ada satu pun partai politik yang secara resmi menyebutkan nama.

Maka, tuan calon sarjana, pergilah ke dokter dan periksa darah, jangan-jangan Anda mengindap malaria dan apa yang Anda tuliskan adalah halusinasi akibat demam tinggi.***

Artikel Kurniawan S Basol di Radar Bolmong

Posting Kota Bukan Ini, Bukan Itu, di blog ini yang kemudian dimuat di Radar Bolmong, Edisi I, ditanggapi Kurniawan S Basol di Radar Bolmong, Edisi II, Minggu Pertama Maret 2008. Mulanya saya memutuskan tidak mem-posting tanggapannya, agar pembaca blog ini tidak ''disiksa'' dengan bahasa Indonesia yang mengerikan. Tapi demi keadilan, dan agar yang tidak membaca Radar Bolmong tidak kehilangan konteks, tulisan tersebut saya putuskan untuk dipublikasi di sini. Tulisan Kurniawan S Basol ini ditampilkan apa adanya, tanpa editing sama sekali. Pembaca, Anda tentu bisa pula memberikan penilaian.


Kota Yang Bagaimana….? Jika, “Bukan Ini, Bukan Itu..!!!!!”

Tanggapan masyarakat atas Celoteh dari Yang Mulia –sebut saja- “KASINO” seorang calon kandidat Di salah satu daerah yang baru dimekarkan di Republik ini tentang “Kota bukan ini, Bukan itu”.

Sebuah kritikan tajam keluar dari seorang “Komedian Kasino”, dalam sebuah tanggapan tentang konsep mengaeni perencanaan pembangunan sebuah kota yang baru seumur jagung, dan konon –kata saudaranya— “cukup untuk rute gerak jalan 17 agustusan.”

Dalam celotehnya Yang Mulia mengkritik beberapa kandidat yang lain tentang konsep pembangunan yang mereka tawarkan demi kesejahteraan masyarakatnya, misalnya konsep ekonomi kerakyatan, konsep kota pendidikan dan jasa. Menurutnya konsep-konsep tersebut hanya sebuah pemikiran ajaib yang mampir di kepala dari yang mulia calon kandidat, Lucunya lagi katanya hanya sekadar keseleo lidah atau keracunan ikan lolosi “ungkapan yang sangat lucu bagi seorang pelawak yang kini terjun di dunia politik’’

“Sedikit terhibur…..” ketika Kami membaca sebuah celoteh tersebut (yang dimuat dalam sebuah harian yang terbit di kotamobagu), lahir sebuah pemikiran yang membawa kami (Pembaca) seakan larut dalam sebuah dialog lucu dari Parodi di tayangan “Republic Mimpi,” dimana seorang calon mengkrik calon yang lain melalui konsep-konsep yang ditawarkan oleh calon tersebut, seolah-olah yang mengkritik telah paham bagaimana konsep yang ditawarkan itu, sedangkan belum tentu kritikannya yang lebih baik daripada konsep yang ditawari oleh kandidat lain.

Kami fakir berdebat di wilayah konseptual itu sebenarnya hal yang sia-sia saja, kenapa..? karena pada wilayah konsep belum ada penilaian benar salah, baik atau buruk karna konsep tersebut belum diimplementasikan, artinya ini masih bersifat kemungkinan, mungkin bisa berjalan sesuai rencana, mungkin juga lari dari perencanaan, nah… konsep dari sebuah perencanaan bernilai benar atau salah, baik atau buruk, jika konsep tersebut telah dijalankan 100%. Konsep tersebut akan bernilai baik/benar apabila dia berjalan sesuai rencana, dan dia (konsep) bernilai buruk/salah apabila lari dari konsep tersebut.

Ada sebuah pertanyaan untuk yang mulia, Tentunya seorang Calon kandidat punya sebuah konsep yang akan diimplementasikan, “walaupun dia sendiri tidak mau mengubarkan konsepnya”, padahalkan itu masih dalam tataran konsep saja, entahlah,,, mungkin ada ketakutan akan sebuah counterattack yang akan membuatnya K.O. atau mungkin Masih mempelajari cara penerapannya, atau jangan-jangan Yang Mulia hanya berapologi saja, (inilah pemikiran masyarakat yang lahir akibat dari kemungkinan-kemungkinan yang belum ada penilaian). Kalaupun yang mulia mempunyai sebuah konsep, pertanyaan Kami bagi yang mulia “Kasino”, Apakah konsep yang dimiliki Yang Mulia sudah bernilai salah atau bernilai benar, baik atau buruk, tetapi belum ada implementasi di daerah yang baru dimekarkan di Republik ini….?

Setelah kami menelaah lebih dalam lagi, ternyata ada sebuah kontradiktif dalam celotehnya, dimana disatu sisi Yang Mulia Menilai bahwa konsep Kota Pendidikan dan Jasa yang sementara berjalan itu hanya merupakan “mimpi disiang bolong, dan hanya sebuah lamunan yang keterlaluan”, dalam arti kata sebuah kemustahilan dan pasimisme bahwa konsep tersebut akan terwujud, sementara disisi lain Beliau mengatakan Mungkin saja Kota tersebut bisa menjadi kota pendidikan, ini seperti halnya Yang Mulia menganalogikan “penyakit permanent yang bisa disembuhkan, atau sebuah ketiadaan yang merealitas (ada)”.

Sebagai bahan perenungan kita semua, marilah kita saling menghargai sesuatu, apapun itu, bagaimanapun bentuknya, serta dari mana datangnya, agar supaya tercipata rasa kebersamaan dalam membangun tanpa harus saling mengkritik konsep yang belum ada penilaian di dalamnya, dalam rangka membangun “Kota yang baru seumur jagung dan cukup untuk rute gerak jalan 17 agustusan serta memiliki penduduk cukup padat –berkisar 150.000” jiwa ini. (Meminjam Istilah Yang Mulia –“Kasino”).***