Komentar yang dikirimkan Ahmad Alheid lewat email ahmad_attar73@.... ini masih sinambung dengan debat antara saya dan Kurniawan S Basol. Email yang saya posting-kan ini sekaligus menutup topik ini, mengingat seluruh subtansi yang diperselisihkan sudah terang-benderang. Selain itu, saya juga risih karena makin banyak SMS dan telepon yang mengkomplein dan menyesalkan mengapa saya harus capek-capek menanggapi Kurniawan S Basol. Mereka rata-rata menyatakan masih banyak isu lebih penting yang perlu mendapat perhatian. Namun, di atas semua lalu-lintas wacana yang sudah terjadi, saya berharap Kurniawan S Basol terus belajar dan kelak menjadi salah satu anak Mongondow yang tetap kritis, independen, dan bermartabat.
Saya heran, Kurniawan mengaitkan kepiawaian Katamsi menulis dengan latar belakangnya yang pernah jadi wartawan. Barangkali ada sedikit benarnya. Tapi, tidak sepenuhnya benar.
Motif Kurniawan, kurang lebihnya, agar ketikbecusannya menulis dimafhumi karena dia bukan wartawan. Ini sikap apologis yang tidak bertanggung jawab dan harus diluruskan.
Barangkali yang dipahami oleh Kurniawan sebagai wartawan adalah mereka yang berprofesi sebagai reporter atau pemburu berita di media massa, lebih khusus lagi media cetak. Mereka yang kerjanya berkaitan dengan tulis-menulis berita.
Saya perlu katakan, setahu saya banyak sekali para reporter (wartawan) yang tidak becus menulis. Menulis dalam kerangka bercerita atau menyampaikan opini terhadap suatu masalah. Apalagi reporter-reporter yang bekerja di media cetak lokal. Bahkan ada yang sudah bertahun-tahun bekerja sebagai reporter, namun tidak memiliki kemampuan menuliskan laporan jurnalistik yang deskriptif dan efisien. Bukan cuma itu, termasuk juga menggunakan tanda baca dengan benar.
Bung, problematika menulis pada seseorang bukan pada kemampuan teknis dan penguasaan diksi semata. Namun, yang menjadikan suatu tulisan menjadi menarik untuk disimak adalah pada penyajian informasi dan penggiringan imajinasi pembaca. Jadi, masalah utama menulis adalah pada kemampuan berpikir seseorang. Kalau tidak bisa mikir, tidak bisa nulis.
Media-media massa besar biasanya mencari atau menerima penulis (wartawan) yang sudah jadi. Yang dibutuhkan kemudian adalah mengasah mereka menjadi wartawan yang handal. Mereka yang berhasil diterima sebagai wartawan di media cetak terkemuka pastilah orang tekun belajar dan giat dalam aktivitas tulis-menulis.
Para mahasiswa yang seusai kuliah menjadi wartawan --di media cetak terkemuka tentunya-- biasanya adalah pengelola majalah kampus dan semacam itu. Mereka juga sudah terbiasa menulis di media massa berupa artikel opini, karya sastra, dan sebagainya. Mungkin malahan sudah menerbitkan karya berupa buku sebelum bergabung dengan media tertentu.
Nah, kenapa mereka yang tidak bisa menulis bisa bekerja sebagai reporter? Di media cetak itu ada redaktur halaman, redaktur bahasa, dan sebagainya. Mereka yang disebut editor inilah yang menuliskan ulang laporan dari reporter ke bentuk berita yang lebih ringkas dan dimengerti.
Contohnya begini, Bung. Kalimat seperti "Katamsi menyurat kepada Kurniawan" oleh editor diringkas menjadi "Katamsi menyurati Kurniawan". Jumlah katanya berkurang, tetapi maknanya tidak berubah. Dan banyak lagi yang Anda bisa lakukan dengan kalimat bila tekun berlatih dan mengasah pikiran.***
Senin, 07 April 2008
Minggu, 06 April 2008
Inimbalu’ in Politik (II)
Ketiga
Di masa itu, sebagai bocah yang ‘’manis-baik’’, saya menjadi langganan ilolok dari almarhum Nenek (Ibu dari ayah). Kesukaan terhadap memancing, mencari obatog, mencuri langsat, mangga, atau manggis milik orang di sekitar Panang, membawa saya ke tempat-tempat yang diyakini punya ‘’penunggu’’.
Entah karena terlambat makan, terlampau capek, atau karena takut dijewer Ibu, beberapa kali saya pulang dengan kondisi bagai kangkung layu: berkeringat dingin, pusing-pusing, gemetar, lemas, pucat, dan mual-mual. Di saat seperti itu, diiringi repetan kesal, almarhum Nenek dengan singgap mengambil pisau, mengadu dengan batu asah, dan mengusap-usapkan ke pundak saya ---lengkap dengan serenteng kalimat dalam bahasa Mongondow. Percaya atau tidak, beberapa saat kemudian, saya merasa bugar lagi.
Tentu mu'jizat ilolok tidak berlaku untuk fenomena yang bukan diakibatkan oleh inimbalu’. Dan itu terjadi satu hari, ketika entah –-saya tidak ingat persis alasannya—bersama adik dan beberapa sepupu saya membakar biji malacai (beberapa tahun kemudian saya baru tahu persis malacai ternyata adalah jarak yang minyak bijinya bisa digunakan sebagai bahan bakar). Seingat saya, ada seorang kawan yang mengatakan bahwa biji malacai bakar bisa bikin stone (di zaman itu kata ini berarti ‘’melayang enak’’).
Bayangkan tentang stone itulah yang membuat biji malacai bakar ini kemudian kami makan beramai-ramai. Rasanya mirip kacang mete. Untuk lidah dan leher remaja zaman itu, boleh dibilang: sedaaapppp! Apalagi ada janji stone-nya.
Setelah beberapa biji malacai masuk perut, tak lebih dari 30 menit, efek jahanam itu datang. Memang melayang, tetapi sengsara. Efek yang pertama menyerbu adalah mual, kemudian pusing, lemas, gemetar, berkeringat dingin, dan tentu saja pucat pasi.
Bisa dibayangkan bagaimana jadinya bila segerombolan cucu pulang terhuyung-huyung. Nenek saya yang naik darah langsung bertanya, kemana cucu-cucunya seharian? Pertanyaan yang salah, apalagi kami dengan sembrono nongkrong di rimbunan pohon sagu dekat sawah Nenek, yang dianggap sebagai salah satu sarang demit di Jalan Amal.
Simpulannya, cucu-cucu sialan itu inimbalu’. Salah tempat di jam yang salah menyebabkan demit dan sedulurnya marah dan memberikan teguran keras.
Maka senjata pamungkas, pisau dan batu asah, pun dikeluarkan. Bahkan setelah punggung saya memerah karena berulang kali digosok dengan pisau, sengsara itu belum juga hilang. Malah muntah yang datang bagai badai. Nenek tak kehilangan akal. Pisau tidak mempan, parang yang keluar. Tak mempan pula, justru batu asah yang menipis. Parang diganti dengan goraka (jahe). Tak mempan juga. Goraka diganti rica Jawa (merica). Juga gagal total.
Jelas tak mempan, karena cuma roh halus atau demit tak waras yang mau berumah di biji malacai.
Untunglah siksaan biji malacai itu berakhir dengan turun-tangannya ayah saya, yang dengan tepat mendiagnosa bahwa anak dan keponakannya mabuk makanan. Obatnya sederhana: dimandikan, diberi makan, teh panas, dan perintah tegas penuh ancaman untuk naik ke tempat tidur. Setelah beberapa lama dihempas kiri-kanan, atas-bawah, oleh tempat tempat tidur yang bertingkah seperti kuda liar gila, akhirnya kami tertidur.
Bangun pagi adalah tantangan yang lain. Efek biji malacai bakar itu lebih biadab dari segentong bir. Kepala berat dan sakit bagai dipalu! Sejak itu pula saya bertekad tak akan menyentuh biji malacai bakar terkutuk itu.
Keempat
Merenungkan penyakit inimbalu’ in politik yang diidap kawan itu –dan juga sejumlah orang yang berkeluh-kesah ke saya dengan gejala yang sama--, saya kira pengobatannya membutuhkan dua pendekatan. Pertama, yang harus pinololok adalah para politikus yang saat ini di-inimbalu’ oleh setan politiknya. Dan caranya mudah, tidak perlu dengan pisau dan batu asah; parang, goraka, atau bahkan merica.
Menyadarkan mereka dari inimbalu’ in politik cukup dengan tempelengan keras sambil dibisiki ‘’ba kaca dulu’’; tak usah dihiraukan; atau yang lebih sopan: tak perlu diundang ke pesta pernikahan, khitanan, bahkan sekadar baca doa untuk perayaan 1 Muharram.
Kedua, cepat-cepatlah pemilihan Walikota dan Wakil Walikota di lakukan. Saya jamin, bersama dengan berakhirnya Pilkada, banyak orang yang lebih lega menghadiri dan pulang dari pesta apapun. Bisa pula tidur lebih pulas dan bangun dengan segar-bugar.
Kalau toh masih juga merasa mual, pusing, lemas, gemetar, berkeringat dingin, dan wajah pucat pasi, tinggal dicek saja apakah kandidat yang dia dukung menang atau kalah; dan apakah dia tim sukses yang sudah menerima janji-janji sorga dari para kandidat.
Kalau kekalahan kandidatnya adalah penyebab, obat mujarabnya mungkin cuma ilolok dengan chain saw.***
Di masa itu, sebagai bocah yang ‘’manis-baik’’, saya menjadi langganan ilolok dari almarhum Nenek (Ibu dari ayah). Kesukaan terhadap memancing, mencari obatog, mencuri langsat, mangga, atau manggis milik orang di sekitar Panang, membawa saya ke tempat-tempat yang diyakini punya ‘’penunggu’’.
Entah karena terlambat makan, terlampau capek, atau karena takut dijewer Ibu, beberapa kali saya pulang dengan kondisi bagai kangkung layu: berkeringat dingin, pusing-pusing, gemetar, lemas, pucat, dan mual-mual. Di saat seperti itu, diiringi repetan kesal, almarhum Nenek dengan singgap mengambil pisau, mengadu dengan batu asah, dan mengusap-usapkan ke pundak saya ---lengkap dengan serenteng kalimat dalam bahasa Mongondow. Percaya atau tidak, beberapa saat kemudian, saya merasa bugar lagi.
Tentu mu'jizat ilolok tidak berlaku untuk fenomena yang bukan diakibatkan oleh inimbalu’. Dan itu terjadi satu hari, ketika entah –-saya tidak ingat persis alasannya—bersama adik dan beberapa sepupu saya membakar biji malacai (beberapa tahun kemudian saya baru tahu persis malacai ternyata adalah jarak yang minyak bijinya bisa digunakan sebagai bahan bakar). Seingat saya, ada seorang kawan yang mengatakan bahwa biji malacai bakar bisa bikin stone (di zaman itu kata ini berarti ‘’melayang enak’’).
Bayangkan tentang stone itulah yang membuat biji malacai bakar ini kemudian kami makan beramai-ramai. Rasanya mirip kacang mete. Untuk lidah dan leher remaja zaman itu, boleh dibilang: sedaaapppp! Apalagi ada janji stone-nya.
Setelah beberapa biji malacai masuk perut, tak lebih dari 30 menit, efek jahanam itu datang. Memang melayang, tetapi sengsara. Efek yang pertama menyerbu adalah mual, kemudian pusing, lemas, gemetar, berkeringat dingin, dan tentu saja pucat pasi.
Bisa dibayangkan bagaimana jadinya bila segerombolan cucu pulang terhuyung-huyung. Nenek saya yang naik darah langsung bertanya, kemana cucu-cucunya seharian? Pertanyaan yang salah, apalagi kami dengan sembrono nongkrong di rimbunan pohon sagu dekat sawah Nenek, yang dianggap sebagai salah satu sarang demit di Jalan Amal.
Simpulannya, cucu-cucu sialan itu inimbalu’. Salah tempat di jam yang salah menyebabkan demit dan sedulurnya marah dan memberikan teguran keras.
Maka senjata pamungkas, pisau dan batu asah, pun dikeluarkan. Bahkan setelah punggung saya memerah karena berulang kali digosok dengan pisau, sengsara itu belum juga hilang. Malah muntah yang datang bagai badai. Nenek tak kehilangan akal. Pisau tidak mempan, parang yang keluar. Tak mempan pula, justru batu asah yang menipis. Parang diganti dengan goraka (jahe). Tak mempan juga. Goraka diganti rica Jawa (merica). Juga gagal total.
Jelas tak mempan, karena cuma roh halus atau demit tak waras yang mau berumah di biji malacai.
Untunglah siksaan biji malacai itu berakhir dengan turun-tangannya ayah saya, yang dengan tepat mendiagnosa bahwa anak dan keponakannya mabuk makanan. Obatnya sederhana: dimandikan, diberi makan, teh panas, dan perintah tegas penuh ancaman untuk naik ke tempat tidur. Setelah beberapa lama dihempas kiri-kanan, atas-bawah, oleh tempat tempat tidur yang bertingkah seperti kuda liar gila, akhirnya kami tertidur.
Bangun pagi adalah tantangan yang lain. Efek biji malacai bakar itu lebih biadab dari segentong bir. Kepala berat dan sakit bagai dipalu! Sejak itu pula saya bertekad tak akan menyentuh biji malacai bakar terkutuk itu.
Keempat
Merenungkan penyakit inimbalu’ in politik yang diidap kawan itu –dan juga sejumlah orang yang berkeluh-kesah ke saya dengan gejala yang sama--, saya kira pengobatannya membutuhkan dua pendekatan. Pertama, yang harus pinololok adalah para politikus yang saat ini di-inimbalu’ oleh setan politiknya. Dan caranya mudah, tidak perlu dengan pisau dan batu asah; parang, goraka, atau bahkan merica.
Menyadarkan mereka dari inimbalu’ in politik cukup dengan tempelengan keras sambil dibisiki ‘’ba kaca dulu’’; tak usah dihiraukan; atau yang lebih sopan: tak perlu diundang ke pesta pernikahan, khitanan, bahkan sekadar baca doa untuk perayaan 1 Muharram.
Kedua, cepat-cepatlah pemilihan Walikota dan Wakil Walikota di lakukan. Saya jamin, bersama dengan berakhirnya Pilkada, banyak orang yang lebih lega menghadiri dan pulang dari pesta apapun. Bisa pula tidur lebih pulas dan bangun dengan segar-bugar.
Kalau toh masih juga merasa mual, pusing, lemas, gemetar, berkeringat dingin, dan wajah pucat pasi, tinggal dicek saja apakah kandidat yang dia dukung menang atau kalah; dan apakah dia tim sukses yang sudah menerima janji-janji sorga dari para kandidat.
Kalau kekalahan kandidatnya adalah penyebab, obat mujarabnya mungkin cuma ilolok dengan chain saw.***
Inimbalu’ in Politik (I)
Pertama
BERHARI-HARI saya menelisik macam-macam buku tentang politik dan penyakit, mencari tahu apa nama penyakit dengan gejala berkeringat dingin, pusing-pusing (beberapa diiringi gemetar), lemas, pucat, mual, dan gatal-gatal, akibat gebyar kampanye calon Walikota dan Wakil Walikota yang kini marak di Kota Kotamobagu. Sekali pun ditambah dengan setumpuk buku psikologi, nama penyakit ajaib ini gagal saya temukan.
Mengapa saya harus menyiksa diri sendiri dengan urusan yang sebenarnya bisa dipersetankan itu? Beberapa SMS, telepon, dan email dari teman dan kerabatnya penyebabnya.
Salah seorang teman, menjelang tengah malam saat saya dalam perjalanan dari bandara ke rumah setelah penerbangan panjang, menelepon dengan nada seperti kain pel habis digunakan mengepel lantai lapangan basket. Lebih baik saya tuliskan dalam bahasa Indonesia, mengingat percakapan kami dilakukan dalam bahasa Manado campur Mongondow. Kurang lebih dia memulai dengan, ‘’Bung, Anda egois. Anda cuma bisa mengkritik, tetapi takut merasakan sendiri suasana di Kotamobagu saat ini. Kalau berani, seharusnya lebih sering pulang dan bergaul.’’
Saya nyaris naik pitam. Sungguh tuduhan yang semena-mena. Dengan menyabarkan diri, saya bertanya, ‘’Ada apa? Mengapa saya mesti takut?’’
‘’Anda takut karena memang pengecut!’’
Wah, ini namanya cari gara-gara. ‘’Apa maksudnya?’’
‘’Anda takut karena Anda tidak sekuat saya yang masih berani hadir di pesta pernikahan, khitanan, atau sekadar selamatan di Kota Kotamobagu, yang saat ini lebih banyak dipenuhi nyanyi-nyanyi kampanye calon Walikota dan Wawali dari pada doa atau permohonan berkat dan keselamatan dari-Nya.’’
O, masih urusan politik rupanya? Tak urung, walau pun lebih tepat disebut ‘’nyengir’’, saya merasa bibir saya tersenyum lebar. ‘’Bukankah teman-teman dan kerabat di Kota Kotamobagu bisa menikmati aksi a la Indonesian Idol atau Dangdut Mania itu? Bahkan banyak yang menyukainya?’’
Saya mendengar gigi menggeretak di kejauhan sana, kemudian dengan nada jengkel kawan itu menukas, ‘’Siapa bilang? Terakhir kali, saya keluar dari pesta dengan keringat dingin, kepala pusing, lemas, dan mual. Yang pertama terlintas, jangan-jangan saya keracunan makanan seperti yang banyak diberitakan. Apalagi sampai di rumah, orang rumah bilang wajah saya pucat….’’
Saya memotong dengan cepat, ‘’Seperti inimbalu’?’’
‘’Persis! Persis betul!’’
‘’Iya, tapi apa pasal? Jangan-jangan benar itu inimbalu’?’’
‘’Sama sekali bukan. Saya kira karena apa yang saya saksikan dari totumba’an (kata ini sulit saya terjemahkan ke bahasa Indonesia) para calon Walikota dan Wakil Walikota itu sama sekali tidak masuk akal. Konyol! Lagipula, kalau inimbalu’, setelah ilolok, pasti sembuh. Atau kalau keracunan, cukup dengan CTM, urusan selesai. Ternyata tidak, sebab di pesta yang lain, dan yang lain lagi, saya juga pulang dengan kesengsaraan yang sama setelah mendengar pidato dan nyanyi-nyanyi dari para calon Walikota dan Wakil Walikota,’’ katanya, seperti rentetan tembakan M16.
Lama saya tercenung. Akhirnya penyakit yang menyeramkan, yang pernah saya gambarkan lewat posting Musim Politik pun Tiba, bisa dinamai. Namanya: Inimbalu’ in Politik.
Kedua
Bagi orang Mongondow, terutama yang berpendidikan tinggi, inimbalu’ barangkali adalah fenomena mistik yang perlu dikikis habis, karena cenderung tidak masuk akal. Gara-gara berteriak-teriak dan tertawa riuh-redah di bawah pohon beringin, atau dekat batu besar di kompleks kuburan, lalu mendadak kita berkeringat dingin, pusing-pusing, gemetar, lemas, pucat, dan mual-mual. Dan ajaibnya, penyakit ini cukup diobati dengan mengosokkan pisau atau parang dengan batu asah (bahasa Mongondownya tolisad atau pitow), kemudian menggosokkan ke punggung sang penderita diiringi sejumlah kalimat. Hasilnya, beberapa saat kemudian sang pengidap sehat wal afiat.
Dengan nama yang berbeda (dan kerap tidak persis sama), masyarakat dari kebudayaan berbeda mengenal kesambet; yang maksud dan manifestasinya mirip dengan inimbalu’. Yang jelas, inimbalu’ bukan kerasukan; bukan pula akibat santet.
Mengenang kembali masa kecil di Jalan Amal –dulu masyarakat Mogolaing menyebutnya ‘’Panang’’—, saya tak bisa meniadakan bahwa saya percaya pada fenomena itu. Bahkan setelah mencicipi Perguruan Tinggi, kemudian melanglang melihat dunia di luar yang modern dan canggih, sebagai orang Mongondow inimbalu’ tetap ada di alam sadar dan bawah sadar saya.
Panang tempoe doeloe adalah tempat yang dikesankan ‘’menyeramkan’’. Ada legenda roh gentayangan; ada tangis bayi yang setiap malam Jumat pas pukul 12 teng melintas di samping rumah orangtua saya (ini merindingkan bulu kuduk kami anak-anak, sekaligus penanda waktu sudah tengah malam); dan sepeda motor yang melaju di atas saluran irigasi ke sawah Nenek yang bunyinya terdengar tetapi sepeda motornya tak ada. Pokoknya, lebih menantang dari film Ghost Rider.
Urban legend itu masih ditambah dengan rimbunan bambu yang menutupi cahaya bulan dekat jembatan di jantung Jalan Amal yang ''katanya'' didiami mangkubi'; pohon kapuk tua sepelukan empat orang dewasa dekat rumah orangtua saya yang dihuni jin; ratusan tulang-belulang yang tersebar di Base Camp (sekarang Jalan Cendana); dan hamparan sawah yang di malam tanpa bulan hanya menyajikan kegelapan pekat.
Pokoknya Panang di masa kanak-kanak saya adalah tempat ideal untuk menguji nyali! Melintasi Jalan Amal dari ujung ke ujung di malam Jumat, tanggal 13, Kliwon pula, bisa membuktikan apakah seorang laki-laki adalah laki-laki atau bukan.***
BERHARI-HARI saya menelisik macam-macam buku tentang politik dan penyakit, mencari tahu apa nama penyakit dengan gejala berkeringat dingin, pusing-pusing (beberapa diiringi gemetar), lemas, pucat, mual, dan gatal-gatal, akibat gebyar kampanye calon Walikota dan Wakil Walikota yang kini marak di Kota Kotamobagu. Sekali pun ditambah dengan setumpuk buku psikologi, nama penyakit ajaib ini gagal saya temukan.
Mengapa saya harus menyiksa diri sendiri dengan urusan yang sebenarnya bisa dipersetankan itu? Beberapa SMS, telepon, dan email dari teman dan kerabatnya penyebabnya.
Salah seorang teman, menjelang tengah malam saat saya dalam perjalanan dari bandara ke rumah setelah penerbangan panjang, menelepon dengan nada seperti kain pel habis digunakan mengepel lantai lapangan basket. Lebih baik saya tuliskan dalam bahasa Indonesia, mengingat percakapan kami dilakukan dalam bahasa Manado campur Mongondow. Kurang lebih dia memulai dengan, ‘’Bung, Anda egois. Anda cuma bisa mengkritik, tetapi takut merasakan sendiri suasana di Kotamobagu saat ini. Kalau berani, seharusnya lebih sering pulang dan bergaul.’’
Saya nyaris naik pitam. Sungguh tuduhan yang semena-mena. Dengan menyabarkan diri, saya bertanya, ‘’Ada apa? Mengapa saya mesti takut?’’
‘’Anda takut karena memang pengecut!’’
Wah, ini namanya cari gara-gara. ‘’Apa maksudnya?’’
‘’Anda takut karena Anda tidak sekuat saya yang masih berani hadir di pesta pernikahan, khitanan, atau sekadar selamatan di Kota Kotamobagu, yang saat ini lebih banyak dipenuhi nyanyi-nyanyi kampanye calon Walikota dan Wawali dari pada doa atau permohonan berkat dan keselamatan dari-Nya.’’
O, masih urusan politik rupanya? Tak urung, walau pun lebih tepat disebut ‘’nyengir’’, saya merasa bibir saya tersenyum lebar. ‘’Bukankah teman-teman dan kerabat di Kota Kotamobagu bisa menikmati aksi a la Indonesian Idol atau Dangdut Mania itu? Bahkan banyak yang menyukainya?’’
Saya mendengar gigi menggeretak di kejauhan sana, kemudian dengan nada jengkel kawan itu menukas, ‘’Siapa bilang? Terakhir kali, saya keluar dari pesta dengan keringat dingin, kepala pusing, lemas, dan mual. Yang pertama terlintas, jangan-jangan saya keracunan makanan seperti yang banyak diberitakan. Apalagi sampai di rumah, orang rumah bilang wajah saya pucat….’’
Saya memotong dengan cepat, ‘’Seperti inimbalu’?’’
‘’Persis! Persis betul!’’
‘’Iya, tapi apa pasal? Jangan-jangan benar itu inimbalu’?’’
‘’Sama sekali bukan. Saya kira karena apa yang saya saksikan dari totumba’an (kata ini sulit saya terjemahkan ke bahasa Indonesia) para calon Walikota dan Wakil Walikota itu sama sekali tidak masuk akal. Konyol! Lagipula, kalau inimbalu’, setelah ilolok, pasti sembuh. Atau kalau keracunan, cukup dengan CTM, urusan selesai. Ternyata tidak, sebab di pesta yang lain, dan yang lain lagi, saya juga pulang dengan kesengsaraan yang sama setelah mendengar pidato dan nyanyi-nyanyi dari para calon Walikota dan Wakil Walikota,’’ katanya, seperti rentetan tembakan M16.
Lama saya tercenung. Akhirnya penyakit yang menyeramkan, yang pernah saya gambarkan lewat posting Musim Politik pun Tiba, bisa dinamai. Namanya: Inimbalu’ in Politik.
Kedua
Bagi orang Mongondow, terutama yang berpendidikan tinggi, inimbalu’ barangkali adalah fenomena mistik yang perlu dikikis habis, karena cenderung tidak masuk akal. Gara-gara berteriak-teriak dan tertawa riuh-redah di bawah pohon beringin, atau dekat batu besar di kompleks kuburan, lalu mendadak kita berkeringat dingin, pusing-pusing, gemetar, lemas, pucat, dan mual-mual. Dan ajaibnya, penyakit ini cukup diobati dengan mengosokkan pisau atau parang dengan batu asah (bahasa Mongondownya tolisad atau pitow), kemudian menggosokkan ke punggung sang penderita diiringi sejumlah kalimat. Hasilnya, beberapa saat kemudian sang pengidap sehat wal afiat.
Dengan nama yang berbeda (dan kerap tidak persis sama), masyarakat dari kebudayaan berbeda mengenal kesambet; yang maksud dan manifestasinya mirip dengan inimbalu’. Yang jelas, inimbalu’ bukan kerasukan; bukan pula akibat santet.
Mengenang kembali masa kecil di Jalan Amal –dulu masyarakat Mogolaing menyebutnya ‘’Panang’’—, saya tak bisa meniadakan bahwa saya percaya pada fenomena itu. Bahkan setelah mencicipi Perguruan Tinggi, kemudian melanglang melihat dunia di luar yang modern dan canggih, sebagai orang Mongondow inimbalu’ tetap ada di alam sadar dan bawah sadar saya.
Panang tempoe doeloe adalah tempat yang dikesankan ‘’menyeramkan’’. Ada legenda roh gentayangan; ada tangis bayi yang setiap malam Jumat pas pukul 12 teng melintas di samping rumah orangtua saya (ini merindingkan bulu kuduk kami anak-anak, sekaligus penanda waktu sudah tengah malam); dan sepeda motor yang melaju di atas saluran irigasi ke sawah Nenek yang bunyinya terdengar tetapi sepeda motornya tak ada. Pokoknya, lebih menantang dari film Ghost Rider.
Urban legend itu masih ditambah dengan rimbunan bambu yang menutupi cahaya bulan dekat jembatan di jantung Jalan Amal yang ''katanya'' didiami mangkubi'; pohon kapuk tua sepelukan empat orang dewasa dekat rumah orangtua saya yang dihuni jin; ratusan tulang-belulang yang tersebar di Base Camp (sekarang Jalan Cendana); dan hamparan sawah yang di malam tanpa bulan hanya menyajikan kegelapan pekat.
Pokoknya Panang di masa kanak-kanak saya adalah tempat ideal untuk menguji nyali! Melintasi Jalan Amal dari ujung ke ujung di malam Jumat, tanggal 13, Kliwon pula, bisa membuktikan apakah seorang laki-laki adalah laki-laki atau bukan.***
Langganan:
Postingan (Atom)
